Mengukur Letak Kebahagiaan - Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, atas segala limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita sekalian, Allah Sang Pemilik Waktu
dan Massa yang masih memberikan kita waktu untuk bisa berbuat baik bagi
sesama, Sholawat dan salam kita sanjung sajikan kepada Nabi Muhammad SAW
atas perjuangan beliau dan sahabat kita semua bisa menikmati indahnya Islam.
Beberapa minggu yang lalu sajikan dengan berita-berita yang terkait
dengan Narkoba, Korupsi, Anarkisme dan lain-lain, sebenarnya mengapa orang bisa terjerumus kedalam
lingkungan tersebut? Sebenarnya mereka tahu bahwa itu tidak dibolehkan baik secara hukum negara maupun secara hukum Agama, tapi mengapa
tetap saja mereka masih juga mau berteman dengan yang namanya hal hal yang dilarang itu ?
Seperti kasus seorang
artis Rafi Ahmad dan teman-temannya di gerebek oleh BNN di kediaman
Rafi, menurut berita mereka tengah berpesta narkoba, ternyata bukan
kalangan bawah saja yang diserang tetapi kalangan artis, anak pejabat
para public figure menjadi incaran para bandar narkoba.
Semoga kasus yang menimpa Artis Tanah air kita yang tersangkut
narkoba ini menjadi yang terakhir, dan menjadi pelajaran bagi banyak
pihak.
Bila kita telisik apa sebenarnya yang dibutuhkan manusia? Kita tentu
ingat saat kita masih kecil dahulu saat kita ditanya mau jadi apa nak?
Kita menjawab dengan berbagai keinginan.
Sudah tamat sekolah, ingin melanjutkan kuliah, sudah kuliah ingin
mencari kerja, sudah kerja ingin menikah, sudah menikah ingin punya
anak, ingin punya rumah, ingin punya mobil, ingin punya jabatan, setelah
semua kita punya, setelah semua yang kita inginkan sudah digenggam
tangan, mengapa kita belum merasa bahagia? Saat kita berada dipuncak
sukses belum merasa bahagia, apa yang menyebabkan semua ini?
Mungkin rasa syukur kita kepada Allah yang masih kurang, kita sering
mengabaikan suara hati yang menajadi alarm ada tanda bahaya pada diri
kita, bukankah hati yang menjadi pusat rasa kebaikan dan keburukan,
bukankah hati yang bisa menilai suatu yang buruk dan yang baik?
Allah mengilhami sukma kebaikan dan keburukan, maka
beruntunglah bagi mereka yang mensucikannya dan rugilah bagi mereka
yang mengotorinya
QS: Asy Syams : 8-10
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau
mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? sungguh
bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam
dada
QS: Al Hajj : 46
Mungkin selama ini kita masih terlalu mencintai dunia hingga kita
lupa siapa kita, dari mana kita berasal, mau kemana dan apa tujuan hidup
kita, bukankah kita dahulu tiada, yang dengan kekuasaan-Nya air yang
hina itu dijadikan segumpal darah kemudian desempurnakan menjadi seorang
manusia di dalam rahim seorang ibu, masih ingatkah kita dengan
perjanjian kita kepada Allah? Saat Allah menanyakan kepada ruh kita?
….Allah berkata : Bukankah Aku ini Tuhanmu? Manusia menjawab : Iya kami bersaksi Engkaulah Tuhan kami……
QS: Al A’raff : 172
Tak ada alasan untuk kita lupa, tak ada alasan untuk kita lalai, bila suatu masa kita ditanyakan kembali.
Bukankah kita manusia di ilhammi IQ, EQ dan SQ bila mampu menyatukan menjadi satu kesatuan kita menjadi manusia paling bahagia.
Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya Rahasia Sukses Membangun Emosi
dan Spiritual (ESQ) menggambarkan dengan sebuah permainan masak-memasak,
sekarang bayangkan kita ingin membuat sebuah masakan didepan kita sudah
ada bahan-bahannya:
- Tepung ketan 500 g
- Tepung kanji 4 sdm
- Kacang hijau 200 g
- Kelapa parut (agak muda) 100 g
- Wijen 100 g
- Gula merah 200 g
- Garam 3 sdt
- Pandan 2 lembar
- Air 400 ml
- Air kapur sirih 2 sdm
- Santan mendidih 400 ml
- Minyak goreng secukupnya
Kira-kira dari bahan tersebut diatas akan menjadi kue apa? Mungkin
ada yang mejawab itu bubur kacang hijau, donat dan sebagainya, mengapa
demikian? Ya anda betul, karena tidak ada resepnya atau cara membuatnya,
sekarang kita akan membuatnya dengan mengikuti tata caranya :
Bahan isi disiapkan dengan cara kacang hijau direbus dengan 400 ml air sampai lunak.
- Gula merah, 1 sendok teh garam, daun pandan,dan kelapa parut dimasukkan.
- Semua bahan tersebut direbus sampai matang dan padat, kemudian diangkat dan didinginkan.
- Bahan isi yang padat tersebut dibentuk menjadi bola-bola kecil sebanyak 32 buah.
- Bahan kulit disiapkan dengan cara tepung ketan dan tepung kanji dicampur, ditambahkan air kapur sirih.
- Santan panas disiramkan sedikit demi sedikit dan diuleni sampai adonan terasa liat.
- Adonan dibagi menjadi 32 bagian yang dibulatkan.
- Satu bahan kulit dipipihkan, di dalamnya diisi dengan satu bahan isi, kemudian adonan dibulatkan kembali.
- Adonan digulingkan ke dalam wijen hingga seluruh permukaannya tertutup oleh wijen.
- Adonan berwijen digoreng dengan minyak suam-suam kuku.
- Beberapa lama kemudian, setelah mengapung, api dibesarkan kemudian
digoreng sampai berwarna kuning, Kemudian diangkat, ditiriskan, dan
didinginkan.
- Lalu disajikan.
Kalau begitu jawabannya? Ya anda benar itu adalah Onde-Onde.
Kalau begitu bagaimana dengan kita manusia? Bukankah kita memiliki
bahan baku yang sama, kita punya IQ, kita punya EQ, kita punya SQ,
mengapa hasilnya berbeda, ada manusia menjadi koruptor, penipu,
menyenangi narkoba, apa yang salah dari semua ini? Mungkin resepnya yang
salah, tidak mampu mengolah bahan baku yang telah diberikan.
Lebih lanjut menurut Ary Ginajar Agustian, pusat orbit harus memiliki
daya tarik sendiri. Pusat orbit itu adalah SQ yang diletakkan sebagai
pusat gerakan dimensi spiritual. Sedangkan EQ yang melingkari SQ,
menunjukkan bahwa EQ digunakan dengan tetap menjunjung tinggi
nilai-nilai spiritual. Pada lingkaran EQ ini terletak dimensi emosional.
Selanjutnya pada deminsi fisik, yaitu lingkaran terluar terdapat IQ
yang bergerak mengelilingi pusat orbit yaitu SQ, hal ini melukiskan
bahwa setiap langkah fisik seperti aktivitas sehari-hari, seperti
bekerja, beribadah dan berpolitik dan sebagainya harus tetap mengorbit
kepada nilai-nilai spiritual.
Lintasan EQ dan IQ yang mengorbit pada SQ memiliki sebuah kekuatan
tersendiri yang tidak bisa diubah-ubah, seperti halnya garis edar
planet-planet yang mengelilingi pusat galaksi. Demikian pula apabila
pusat orbit itu kita ganti, maka hancur pulalah tatanan jiwa dan tatanan
sosial kita. Sudah banyak contoh yang menunjukkan manakala manusia
mengganti pusat edarnya dengan kepentingan materi, golongan, jabatan
atau diri sendiri, maka hancurlah diri kita atau bangsa kita seperti
yang kita alami dan rasakan sekarang ini.
Dengan demikian jelaslah bahwa antara IQ, EQ dan SQ mempunyai
hubungan kerja yang sangat erat satu dengan yang lain, saling bersinergi
dan saling mendukung. walau masing-masing mempunyai wilayah dan
kekuatan tersendiri dan bisa berfungsi secara terpisah.
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak dapat diubah-ubah fitrah Allah. (Itulah) agama
yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
QS : Ar Ruum. 30
Demikian semoga bermanfaat bagi kita sekalian khususnya penulis sendiri.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan
berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah
ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
QS: An Nashr 1-3
Writed by Medi Ramadhan